Refleksi Ekoteologi, Prof. Darwis Harahap Ajak ASN UIN Syahada Jaga Kelestarian Alam dan Perkuat Integritas Kerja

Padangsidimpuan, 19 Oktober 2026 – Fenomena bencana asap yang melanda sejumlah wilayah akibat kebakaran hutan dan lahan menjadi pengingat penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan. Persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kerusakan alam, tetapi juga menjadi momentum untuk merefleksikan tanggung jawab manusia dalam menjaga keseimbangan kehidupan.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Rektor  Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, Prof. Dr. Darwis Harahap, M.Si., saat bertindak sebagai pembina apel pagi Aparatur Sipil Negara di lingkungan Biro UIN Syahada, Senin (19/10/2026).

Dalam amanatnya, Prof. Darwis menyoroti fenomena bencana asap yang dirasakan masyarakat di berbagai wilayah. Menurutnya, asap yang menyelimuti suatu daerah dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan di wilayah lain, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di lokasi kebakaran, tetapi juga oleh masyarakat di daerah sekitarnya.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi akibat aktivitas manusia harus menjadi bahan introspeksi bersama. Alam yang seharusnya dijaga dan dirawat justru dapat mengalami kerusakan apabila manusia tidak memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan ekosistem.

“Fenomena alam hari ini, ketika kita mengalami musibah bencana asap di mana-mana, harus menjadi pengingat bagi kita semua. Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah daerah memberikan dampak luas bagi kehidupan masyarakat. Karena itu, kita perlu merefleksikan kembali hubungan manusia dengan alam dan tanggung jawab kita untuk menjaganya,” ungkapnya.

Al-Qur’an Mengingatkan Manusia agar Tidak Merusak Alam

Dalam menjelaskan pentingnya menjaga lingkungan, Prof. Darwis mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Ar-Rum ayat 41:

“Zhaharal fasādu fil barri wal baḥri bimā kasabat aidin-nās.”

Artinya, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”

Menurutnya, ayat tersebut mengandung pesan mendalam tentang hubungan antara perilaku manusia dan kerusakan lingkungan. Manusia tidak seharusnya memandang alam hanya sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa batas, melainkan sebagai amanah yang harus dipelihara demi keberlangsungan kehidupan.

Pesan Al-Qur’an tersebut, lanjutnya, relevan dengan kondisi lingkungan saat ini. Kepedulian terhadap alam tidak cukup berhenti pada wacana, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari hingga keterlibatan dalam menjaga kelestarian lingkungan secara lebih luas.

Sebagai bagian dari lembaga pendidikan tinggi keagamaan, ASN UIN Syahada memiliki tanggung jawab moral untuk menjadikan nilai-nilai keislaman sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Dengan demikian, ajaran agama tidak hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi juga diimplementasikan dalam perilaku yang membawa manfaat bagi manusia dan lingkungan.

Ekoteologi dan Paradigma Keilmuan Teoantropoekosentris

Lebih lanjut, Prof. Darwis menegaskan bahwa implementasi ekoteologi menjadi hal penting bagi ASN di lingkungan UIN Syahada. Ekoteologi merupakan pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai ketuhanan dengan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam.

Ia menjelaskan, UIN Syahada telah menegaskan paradigma keilmuan Teoantropoekosentris, yang menempatkan hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam lingkungan sebagai kesatuan yang harus dibangun secara harmonis.

“Sebagai ASN di lembaga pendidikan tinggi, sudah seharusnya kita menerapkan dan mengimplementasikan ekoteologi. UIN Syahada telah menegaskan paradigma keilmuan teoantropoekosentris, yaitu membangun hubungan yang harmonis antara kita dengan Sang Pencipta, dengan sesama manusia, dan dengan alam lingkungan,” tegasnya.

Melalui paradigma tersebut, ia mengajak seluruh ASN untuk memahami bahwa tanggung jawab menjaga keseimbangan kehidupan tidak dapat dipisahkan dari pelaksanaan tugas dan fungsi masing-masing. Hubungan yang baik dengan Allah SWT harus tercermin dalam perilaku yang baik terhadap sesama manusia serta kepedulian terhadap alam.

Karena itu, tidak boleh ada tindakan yang sengaja menimbulkan kerusakan, baik terhadap lingkungan maupun terhadap tatanan kehidupan bersama. Kesadaran ekologis harus tumbuh menjadi bagian dari karakter dan budaya kerja seluruh sivitas akademika.

Pesan yang disampaikan Prof. Darwis Harahap menegaskan bahwa menjaga alam dan menjaga lingkungan kerja pada hakikatnya merupakan bagian dari tanggung jawab manusia dalam menjalankan amanah. Dengan kesadaran tersebut, ASN UIN Syahada diharapkan tidak hanya menjadi pelaksana tugas kelembagaan, tetapi juga menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi sesama, menjaga kelestarian alam, dan berkontribusi bagi terwujudnya kehidupan yang lebih baik.(mr)