Wakil Rektor I UIN Syahada Ajak ASN Refleksikan Ekoteologi, Tingkatkan Kinerja dan Kepedulian terhadap Lingkungan
Padangsidimpuan, 12/10/2026 – Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, Prof. Dr. Arbanurrasyid, MA, menyampaikan pesan penting tentang refleksi ekoteologi dalam upaya meningkatkan kinerja Aparatur Sipil Negara sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian alam dan lingkungan. Pesan tersebut disampaikannya saat bertindak sebagai pembina apel pagi rutin ASN di lingkungan UIN Syahada pada Senin (12/10/2026).
Dalam amanatnya, Prof. Arbanurrasyid menegaskan bahwa berbagai fenomena kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini merupakan peringatan nyata bagi manusia untuk kembali mengevaluasi sikap dan perilakunya terhadap alam. Menurutnya, kerusakan hutan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir di berbagai wilayah, serta persoalan sampah menjadi gambaran bahwa hubungan manusia dengan lingkungan membutuhkan perhatian dan tindakan nyata.
Ia mengingatkan bahwa manusia tidak dapat melepaskan diri dari alam karena keberlangsungan kehidupan sangat bergantung pada keseimbangan ekosistem. Ketika manusia mengabaikan kelestarian lingkungan dan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga kembali kepada manusia dalam bentuk bencana dan berbagai persoalan kehidupan.
“Fenomena kerusakan alam yang kita saksikan hari ini merupakan bukti nyata bahwa masih ada manusia yang kurang peduli terhadap lingkungan. Allah SWT telah mengingatkan kita melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an, zhaharal-fasādu fil-barri wal-baḥri bimā kasabat aidin-nās, yang artinya telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia,” ungkapnya.
Ayat tersebut, lanjutnya, mengandung pesan mendalam agar manusia menyadari tanggung jawabnya sebagai khalifah di muka bumi. Manusia tidak hanya diberi hak untuk memanfaatkan sumber daya alam, tetapi juga memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk memelihara, melindungi, serta menjaga keseimbangannya.
Prof. Arbanurrasyid menjelaskan bahwa berbagai tindakan yang dianggap sederhana, tetapi dilakukan secara terus-menerus tanpa mempertimbangkan dampaknya, dapat memperburuk kondisi lingkungan. Penebangan hutan secara tidak terkendali, membuang sampah sembarangan, serta penggunaan kendaraan berbahan bakar fosil secara berlebihan merupakan contoh perilaku yang perlu dievaluasi bersama.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak cukup hanya disikapi melalui keprihatinan, doa, ataupun pembicaraan. Diperlukan perubahan perilaku dan langkah konkret yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan kerja, hingga masyarakat luas. Kesadaran ekologis harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang berkelanjutan, bukan sekadar menjadi slogan atau kegiatan seremonial.
Ekoteologi: Menghubungkan Keimanan dengan Kepedulian Lingkungan
Dalam amanat tersebut, Prof. Arbanurrasyid juga menekankan pentingnya memahami ekoteologi sebagai pendekatan yang menghubungkan nilai-nilai ketuhanan, ajaran agama, dan tanggung jawab manusia dalam menjaga kelestarian alam. Melalui perspektif ini, kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya dipandang sebagai kewajiban sosial, melainkan juga sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai keimanan.
Ia mengajak seluruh ASN UIN Syahada untuk menjadikan kesadaran ekologis sebagai bagian dari kepribadian dan budaya kerja. Menurutnya, seorang ASN yang berintegritas tidak hanya dituntut menunjukkan profesionalisme dalam menjalankan tugas kedinasan, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan kehidupan.
“Sebagai ASN, kita tidak boleh apatis melihat kerusakan lingkungan yang terjadi. Kita harus mampu menghadirkan upaya dan terobosan positif untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Salah satunya melalui gerakan menanam pohon. Namun, kegiatan menanam pohon jangan hanya menjadi formalitas atau sekadar menggugurkan kewajiban dalam sebuah kegiatan. Gerakan ini harus tumbuh menjadi budaya sosial yang dilakukan secara berkelanjutan dan ditularkan kepada orang lain,” tegasnya.
Ia menambahkan, gerakan menanam pohon harus disertai dengan tanggung jawab untuk merawatnya hingga tumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan. Selain itu, kepedulian terhadap alam juga dapat diwujudkan melalui kebiasaan menjaga kebersihan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air dan energi, serta menjaga lingkungan kampus agar tetap bersih, hijau, dan nyaman.
Menurutnya, kampus sebagai lembaga pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab strategis untuk memberikan teladan dalam membangun kesadaran lingkungan. Nilai-nilai ekoteologi perlu dihidupkan melalui perilaku sehari-hari seluruh sivitas akademika, sehingga kampus tidak hanya menjadi tempat mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang peduli terhadap keberlangsungan alam.
Memulai Perubahan dari Diri Sendiri
Lebih lanjut, Prof. Arbanurrasyid mengingatkan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai melalui langkah yang besar pula. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi awal bagi terciptanya perubahan yang lebih luas. Oleh karena itu, setiap ASN hendaknya tidak menunggu orang lain bergerak terlebih dahulu sebelum melakukan kebaikan.
Ia mengutip ungkapan ibda’ binafsik, yang bermakna mulailah dari diri sendiri, sebagai prinsip penting dalam membangun kepedulian dan keteladanan. Menurutnya, seseorang yang menginginkan lingkungan bersih harus terlebih dahulu menjaga kebersihan di sekitarnya. Demikian pula, seseorang yang mengajak orang lain menanam pohon dan mengurangi sampah perlu menunjukkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
“Jangan menunggu orang lain berbuat baik baru kita ikut berbuat baik. Mulailah dari diri masing-masing. Jika setiap ASN memiliki kesadaran untuk menjaga lingkungan, melakukan penghijauan, membuang sampah pada tempatnya, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana, maka kebiasaan baik tersebut akan memberikan dampak positif bagi orang lain. Keteladanan adalah salah satu cara terbaik untuk menumbuhkan kepedulian bersama,” pesannya.
Ia berharap kesadaran tersebut dapat berkembang menjadi gerakan kolektif di lingkungan UIN Syahada. Setiap individu diharapkan menjadi pelopor kebaikan yang mampu menginspirasi rekan kerja, keluarga, mahasiswa, dan masyarakat untuk bersama-sama menjaga alam. Dengan demikian, upaya pelestarian lingkungan tidak berhenti pada kegiatan tertentu, tetapi menjadi bagian dari karakter dan tanggung jawab bersama.
Kepedulian Lingkungan sebagai Bagian dari Peningkatan Kinerja ASN
Dalam konteks peningkatan kinerja ASN, Prof. Arbanurrasyid menegaskan bahwa profesionalisme, integritas, disiplin, dan kepedulian sosial harus berjalan beriringan. Kinerja yang baik tidak semata-mata diukur dari penyelesaian pekerjaan administratif dan pencapaian target organisasi, tetapi juga tercermin melalui sikap, tanggung jawab, serta kontribusi positif terhadap lingkungan kerja dan masyarakat.
Ia mengajak seluruh ASN UIN Syahada menjadikan amanat apel pagi tersebut sebagai momentum refleksi untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas pengabdian, dan memperkuat kesadaran bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi bagi kehidupan bersama.
Menurutnya, lingkungan kerja yang bersih, tertata, hijau, dan nyaman juga menjadi salah satu faktor pendukung terciptanya suasana kerja yang sehat dan produktif. Karena itu, menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan kampus hendaknya menjadi tanggung jawab seluruh unsur, bukan hanya petugas kebersihan atau unit tertentu.
Melalui refleksi ekoteologi ini, ia berharap tumbuh kesadaran baru di kalangan ASN bahwa menjaga alam merupakan bagian dari amanah kehidupan sekaligus bentuk nyata pengabdian kepada Allah SWT. Kesadaran tersebut perlu diwujudkan melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, disertai semangat untuk mengajak dan menginspirasi orang lain.
Amanat apel pagi itu menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak hanya berkaitan dengan kecakapan intelektual dan profesionalisme, tetapi juga menyangkut pembentukan karakter, tanggung jawab moral, serta kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan. Dengan semangat ibda’ binafsik, UIN Syahada diharapkan mampu menumbuhkan budaya kerja yang berintegritas sekaligus budaya kampus yang ramah lingkungan. Sebab, menjaga alam bukan semata-mata tugas individu atau kelompok tertentu, melainkan tanggung jawab bersama demi mewariskan lingkungan yang lebih baik kepada generasi mendatang.(mr)

