“Rektor UIN Syahada: Gelar Adat untuk Menteri Agama Dorong Kampus Moderat Berbasis Kearifan Lokal”
Padangsidimpuan – Penganugerahan gelar adat kepada Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., oleh Kerajaan Luwu mendapat perhatian dari berbagai kalangan, termasuk sivitas akademika UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan. Rektor UIN Syahada, Prof. Dr. H. Muhammad Darwis Dasopang, M.Ag., menilai penghargaan tersebut bukan hanya bentuk penghormatan pribadi, tetapi juga menjadi simbol sinergi antara adat, agama, dan negara dalam membangun peradaban bangsa.
Menurut Rektor, pengakuan yang diberikan kepada Menteri Agama karena kepemimpinan beliau yang bersih, bebas dari praktik korupsi, serta konsisten memperjuangkan moderasi beragama dan harmoni sosial, sejalan dengan visi besar perguruan tinggi Islam. “Penganugerahan ini membuktikan bahwa kepemimpinan yang berintegritas dan konsisten memperjuangkan moderasi beragama mampu mendapatkan pengakuan sosial-budaya dari masyarakat. Hal ini menjadi inspirasi bagi kami di UIN Syahada dalam menyiapkan generasi berkarakter, berwawasan global, namun tetap berpijak pada kearifan lokal,” ujarnya.
Lebih jauh, Prof. Darwis menegaskan bahwa moderasi beragama bukan hanya wacana, tetapi harus menjadi praktik nyata dalam kehidupan sosial dan akademik. Pendidikan tinggi Islam, menurutnya, memiliki peran penting sebagai jembatan yang memperkuat nilai-nilai adat, budaya, dan ajaran agama sehingga tercipta harmoni yang berkelanjutan.
“Kami memandang momen ini sebagai pengingat bahwa tugas perguruan tinggi Islam bukan hanya mencetak lulusan yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter moral yang kuat dan mampu menjaga warisan budaya bangsa. Inilah wujud nyata visi UIN Syahada menuju kampus moderat, inklusif, dan berdaya saing,” tambahnya.
Dengan demikian, penganugerahan gelar adat kepada Menteri Agama diharapkan tidak hanya menjadi inspirasi bagi para pemimpin nasional, tetapi juga menjadi energi positif bagi seluruh perguruan tinggi Islam, termasuk UIN Syahada Padangsidimpuan, dalam memperkuat komitmen membangun peradaban berbasis ilmu, moralitas, dan kearifan lokal.