Prof. Muhammad Ali Ramdhani: Moderasi Beragama Lahir dari Akal yang Dimuliakan
Padangsidimpuan. 9 Juli 2026 – Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T., menegaskan bahwa moderasi beragama tidak cukup dipahami sebagai konsep kehidupan beragama semata, melainkan harus dibangun melalui pendidikan yang memuliakan akal dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia secara utuh. Penegasan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada Seminar Ilmiah Moderasi Beragama bertajuk “Strategi Membangun Generasi Akademik yang Moderat, Inklusif, Adaptif, Berdaya Saing Menuju Indonesia Emas Tahun 2045” yang diselenggarakan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan di Aula Perpustakaan Lantai III, Kamis (9/7/2026).
Mengawali pemaparannya, Prof. Muhammad Ali Ramdhani menjelaskan bahwa Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI memperoleh mandat strategis untuk mengimplementasikan arah kebijakan Kementerian Agama melalui tiga kata kunci, yakni beragama, maslahat, dan cerdas. Ketiga nilai tersebut, menurutnya, menjadi fondasi dalam membangun sumber daya manusia yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dan bangsa.








Ia menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam melahirkan generasi penerus bangsa. Karena itu, kampus tidak boleh hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi harus hadir sebagai pusat lahirnya peradaban yang mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak sekadar menjadi menara gading yang hanya indah dipandang, tetapi harus menjadi mercusuar yang mampu menerangi ketika dunia berada dalam kegelapan,” ujar Prof. Muhammad Ali Ramdhani.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus dimulai dari pemahaman yang benar tentang hakikat manusia. Dalam berbagai perspektif keilmuan, manusia dipandang sebagai makhluk yang memiliki kemampuan berpikir, sehingga pendidikan harus diarahkan pada upaya memuliakan akal sebagai anugerah terbesar yang dimiliki manusia. Dari proses itulah akan lahir pribadi yang mampu bersikap arif, bijaksana, dan menghargai keberagaman.
“Moderasi beragama hanya bisa muncul melalui pendekatan pemuliaan terhadap akal. Karena itu, pendidikan harus menjadi ruang untuk melahirkan manusia-manusia yang berpikir, bijaksana, dan mampu menghadirkan kemaslahatan,” tegasnya.
Prof. Muhammad Ali Ramdhani menjelaskan bahwa pemuliaan akal hanya dapat dilakukan melalui pendidikan yang berkualitas. Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga melahirkan kelembutan sikap, kedewasaan berpikir, dan kemampuan menghadapi berbagai persoalan kehidupan secara rasional. Ia mengutip pesan Imam Syafi’i bahwa perjuangan menuntut ilmu memang membutuhkan kesungguhan, namun pengorbanan tersebut akan melahirkan manusia yang mampu membangun masa depan.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa pembangunan generasi akademik menuju Indonesia Emas 2045 harus dilakukan secara menyeluruh melalui penguatan lima dimensi kecerdasan, yakni kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, kecerdasan fisik, kecerdasan sosial, dan kecerdasan spiritual. Kelima aspek tersebut saling melengkapi dalam membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam pengambilan keputusan, sehat jasmani, mampu membangun hubungan sosial yang harmonis, serta memiliki kedekatan spiritual dengan Tuhan.
Dalam penjelasannya mengenai kecerdasan emosional, Prof. Muhammad Ali Ramdhani mengingatkan pentingnya kemampuan mengendalikan emosi dalam kehidupan pribadi maupun profesional. Menurutnya, banyak persoalan muncul bukan karena kurangnya pengetahuan, melainkan karena ketidakmampuan seseorang mengelola perasaan ketika menghadapi tekanan, konflik, ataupun perbedaan pendapat.
“Jangan pernah mengambil keputusan ketika sedang marah, dan jangan pula mudah mengumbar janji ketika sedang sangat bahagia. Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu mengendalikan emosinya sebelum mengambil keputusan,” pesannya di hadapan ratusan peserta seminar.
Ia juga menyoroti pentingnya kecerdasan sosial sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Menurutnya, manusia tidak pernah bisa hidup sendiri sehingga kemampuan membangun empati, menghargai orang lain, dan menggunakan tutur kata yang baik merupakan bagian dari kecerdasan yang harus terus dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi. Kepada para dosen, ia berpesan agar proses pendidikan dijalankan dengan pendekatan yang humanis.
“Jangan pernah menghina ketika mendidik, tetapi membinalah. Jangan pernah mencela, tetapi cintailah. Dan jangan pernah memukul, tetapi rangkullah,” ungkap Prof. Muhammad Ali Ramdhani yang disambut tepuk tangan peserta seminar.
Menutup pemaparannya, Prof. Muhammad Ali Ramdhani menegaskan bahwa seluruh proses pendidikan pada akhirnya harus bermuara pada penguatan karakter dan spiritualitas. Menurutnya, ilmu pengetahuan, kecerdasan, dan kemampuan akademik akan memiliki makna apabila digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama. Karena itu, moderasi beragama harus diwujudkan dalam sikap saling mencintai, menghormati, dan membangun kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
“Bentuk moderasi beragama pada dasarnya adalah mencintai yang ada di bumi agar kita dicintai oleh yang di langit,” pungkasnya.
Melalui Seminar Ilmiah Moderasi Beragama ini, Prof. Muhammad Ali Ramdhani mengajak seluruh sivitas akademika UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan menjadikan kampus sebagai pusat lahirnya generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki karakter moderat, inklusif, adaptif, serta mampu berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Menurutnya, cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya dapat diwujudkan apabila perguruan tinggi berhasil melahirkan sumber daya manusia yang cerdas, berintegritas, berakhlak mulia, dan menjadikan moderasi beragama sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, serta berkarya demi kemajuan peradaban Indonesia.