Prof. Ahmad Zainul Hamdi: Kepintaran Tanpa Moderasi Beragama Hanya Akan Melahirkan Kebencian

Padangsidimpuan. 9 Juli 2026 – Kepala Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan Indonesia Emas 2045 tidak hanya ditentukan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan lembaga pendidikan membentuk generasi akademik yang moderat, inklusif, adaptif, dan berdaya saing. Penegasan tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber pada Seminar Ilmiah Moderasi Beragama yang diselenggarakan Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan di Aula Perpustakaan Lantai III, Kamis (9/7/2026).

Mengawali paparannya bertajuk “Strategi Membangun Generasi Akademik yang Moderat, Inklusif, Adaptif, Berdaya Saing Menuju Indonesia Emas Tahun 2045,” Prof. Ahmad Zainul Hamdi mengajak peserta memahami bahwa moderasi beragama bukanlah konsep yang asing bagi bangsa Indonesia. Menurutnya, nilai-nilai toleransi telah tumbuh dan hidup dalam masyarakat jauh sebelum istilah moderasi beragama diperkenalkan secara formal.

Ia kemudian membagikan kisah yang pernah disampaikan Wakil Menteri Agama mengenai seorang tetangga nonmuslim yang membantu mengangkat jemuran milik seorang muslim saat hujan turun. Kisah sederhana tersebut, menurutnya, menggambarkan bahwa toleransi merupakan praktik kehidupan sehari-hari yang lahir dari sikap saling menghormati, bukan karena adanya paksaan ataupun kepentingan tertentu.

“Sebetulnya sejarah kita sebagai bangsa tidak perlu dididik untuk toleransi dari siapa pun, karena kita sudah memiliki pengalaman hidup bersama. Toleransi itu adalah kehidupan itu sendiri,” ujar Prof. Ahmad Zainul Hamdi.

Ia menambahkan, moderasi beragama tidak pernah mengajarkan seseorang untuk mengurangi keyakinan ataupun mengompromikan akidah. Moderasi justru mengajarkan cara menghormati keyakinan orang lain tanpa kehilangan identitas keagamaan sendiri. Sikap tersebut, menurutnya, harus menjadi budaya di lingkungan pendidikan agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik, melainkan menjadi kekuatan untuk membangun persatuan.

Prof. Ahmad Zainul Hamdi kemudian mengaitkan moderasi beragama dengan arah pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045. Mengutip gagasan Menteri Agama tentang Kurikulum Berbasis Cinta, ia menjelaskan bahwa pendidikan merupakan investasi terbesar bangsa dalam menyiapkan generasi masa depan yang mampu menjawab tantangan global.

“Pendidikan itu adalah investasi sebuah bangsa untuk menggaransi bahwa masa depan bangsa itu menjadi lebih baik daripada sekarang,” tegasnya.

Menurutnya, lembaga pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan, memiliki tanggung jawab strategis dalam membentuk karakter peserta didik. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa nilai kemanusiaan hanya akan melahirkan sumber daya manusia yang menggunakan ilmu pengetahuan untuk memperkuat permusuhan dan kekerasan, bukan untuk membangun peradaban.

“Apapun kehebatan yang dimiliki seseorang, jika mentalnya dipenuhi kebencian, maka seluruh kepintarannya akan digunakan untuk memperkuat kebencian. Semakin orang pintar yang dipenuhi kebencian, semakin besar pula kerusakan yang dapat ditimbulkannya,” ungkapnya.

Menurut Prof. Ahmad Zainul Hamdi, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjadi agen perdamaian di tengah masyarakat yang majemuk. Karena itu, kampus perlu terus memperkuat ekosistem pembelajaran yang mendorong lahirnya budaya dialog, sikap saling menghargai, serta kemampuan berpikir kritis tanpa kehilangan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia Emas 2045 tidak dapat diwujudkan hanya dengan mengandalkan pembangunan infrastruktur maupun kemajuan teknologi. Keberhasilan pembangunan nasional, menurutnya, sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Generasi yang cerdas, tetapi tidak memiliki karakter moderat dan nilai kemanusiaan, justru berpotensi menciptakan berbagai persoalan baru dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Karena itu, Prof. Ahmad Zainul Hamdi mendorong perguruan tinggi keagamaan untuk terus mengintegrasikan nilai-nilai moderasi beragama dalam proses pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Integrasi tersebut dinilai penting agar lulusan tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga mampu menjadi teladan dalam membangun kehidupan sosial yang damai, inklusif, dan harmonis di tengah keberagaman.

Seminar Ilmiah Moderasi Beragama yang digelar LPM UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan ini menjadi bagian dari komitmen institusi dalam memperkuat budaya akademik yang moderat sekaligus mendukung implementasi program strategis Kementerian Agama RI. Melalui forum ilmiah tersebut, sivitas akademika memperoleh penguatan wawasan mengenai pentingnya moderasi beragama sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan global.

Menutup pemaparannya, Prof. Ahmad Zainul Hamdi mengajak seluruh peserta seminar, khususnya dosen dan mahasiswa, untuk menjadikan moderasi beragama sebagai praktik nyata dalam kehidupan akademik maupun sosial. Menurutnya, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar mencetak generasi yang mampu menggabungkan kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan keluhuran moral sehingga mampu menjadi penggerak terwujudnya Indonesia Emas 2045 yang maju, harmonis, dan berkeadaban.