Penjelasan Tentang Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar
Dalil Hadis tentang Amar Ma’ruf, Nahi Munkar
Di dalam Hadist juga dijumpai keterangan yang memerintahkan supaya mengajak berbuat baik dan melarang perbuatan munkar. Malah hal tersebut dinyatakan memiliki kedudukan yang lebih tinggi nilainya daripada Jihad membunuh orang yang ingkar pada Allah dan Rasul-Nya.
Dalam salah satu hadist diriwayatkan Abu Zar al Ghiffari, ia berkata: Abu Bakar Siddik r.a bertanya kepada Nabi: Ya Rosullallah, adakah jihad yang lain kecuali memerangi orang-orang musyrikin, orang yang mempersekutukan Allah? Rasullullah menjawab: ada, hai Abu Bakar. Bahwasanya Allah Ta’ala mempunyai pejuang-pejuang (mujahidin) dimuka bumi ini yang lebih utama dari pada pahlawan-pahlawan (syuhada) yang hidup, yang memperoleh rezeki, yang berjalan di atas muka bumi. Allah bangga dengan mereka, malaikat malaikat di langit dan dihiasi untuk mereka itu surga, sebagaimana Ummu Salamah berhias untuk Rasullullah. Abu Bakar bertanya lagi: siapakah mereka itu ya Rasullullah? Nabi menjawab “Orang-orang yang mengajak berbuat baik (ma’ruf) dan melarang berbuat jahat (munkar), berkasih-kasihan pada jalan Allah dan marah pada jalan Allah”.
Pada hadist di atas, Rasullullah menegaskan bahwa bakti orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah suatu jihad yang memiliki nilai tinggi disisi Allah SWT. Masih banyak lagi Hadits lain tentang amar ma’ruf nahi munkar. Di antaranya adalah:
Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim, no. 49)
Nabi saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada yang ma’ruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksa kepada kalian sebab keengganan kalian tersebut, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.”
(HR. Tirmidzi dari Hudzaifah ibn al-Yaman, hadits no. 2095).
Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu anhu berkata, bahwa Nabi SAW bersabda :Janganlah kalian duduk-duduk di (tepi) jalanan,” mereka (para sahabat) berkata,”Sesungguhnya kami perlu duduk-duduk untuk berbincang-bincang.” Beliau berkata,”Jika kalian tidak bisa melainkan harus duduk-duduk, maka berilah hak jalan tersebut,” mereka bertanya,”Apa hak jalan tersebut, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab,”Menundukkan (membatasi) pandangan, tidak mengganggu (menyakiti orang), menjawab salam, memerintahkan kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
“Sungguh, demi Allah, hendaknya engkau benar-benar menyerukan yang ma’ruf dan benar-benar mencegah yang munkar, dan sungguh-sungguh menentang tangan-tangan orang zalim, dengan benar-benar mengembalikannya ke jalan yang benar dan benar-benar menjaganya di jalan yang hak.” (HR. Abu Daud)
“Bukan dari golongan kami mereka yang tidak menyayangi anak-anak kami dan tidak menghargai orangtua kami, serta tidak menyerukan kema’rufan dan tidak pula mencegah kemunkaran.” (HR. Tirmizi)
“Barangsiapa di antara kalian melihat suatu perbuatan munkar lalu mengubah dengan tangannya, maka ia sudah terbebas dari kesalahan. Dan barangsiapa yang tiada sanggup untuk mengubah dengan tangannya, lalu mengubah dengan lisannya, maka sungguh ia sudah terbebas dari kesalahan. Dan barangsiapa tiada sanggup untuk mengubah dengan lisannya, lalu mengubah dengan hatinya (yakni mengingkarinya), maka ia sudah terbebas dari kesalahan. Dan yang terakhir adalah tingkatan iman yang terlemah.” (HR. An Nasai).