Menakar Makna Bahagia dalam Diri Seorang Pemimpin
Ciputat, 18 April 2025 – Dalam kesunyian pagi yang tenang dan penuh berkah, suasana di Pusbangkom MKMB Ciputat terasa berbeda. Jamaah yang terdiri dari peserta Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan XVII tahun 2025 tampak khusyuk mengikuti kultum ba’da Subuh yang digelar sebagai bagian dari pembinaan spiritual selama diklat berlangsung.
Pada hari Jumat yang mulia itu, siraman rohani disampaikan oleh H. Ratonggi, S.Ag., MA, Kepala Bagian Umum dan Akademik UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan. Dengan tema “Sumber Kebahagiaan”, beliau tidak hanya berbicara sebagai seorang penceramah, tetapi lebih dari itu, hadir sebagai seorang pembimbing ruhani yang mengajak hadirin untuk merenungi ulang landasan nilai-nilai kepemimpinan yang sejati.
“Siapa pun kita, apapun jabatan kita, pasti ingin hidupnya bahagia,” ujar beliau membuka kultum dengan suara tenang yang langsung menyentuh kesadaran jamaah.
Namun, beliau mengingatkan bahwa kebahagiaan yang hakiki bukan berasal dari apa yang kasat mata—bukan dari kekayaan, jabatan, atau pujian manusia—melainkan dari apa yang tertanam dalam jiwa: keyakinan kepada Tuhan, semangat menuntut ilmu, dan komitmen terhadap amal kebaikan.
Dalam suasana penuh keheningan, beliau mengajak para peserta untuk menyadari bahwa seorang pemimpin bukan hanya dituntut piawai mengelola organisasi atau menyusun strategi. Lebih dalam dari itu, pemimpin adalah sosok yang harus kuat secara spiritual dan tangguh dalam menjalani nilai-nilai kebenaran.
“Semakin tinggi iman, semakin damai hati. Tapi saat iman menurun, kesengsaraan mulai menghampiri,” tutur beliau sambil mengutip Surat Al-A’raf ayat 96 yang menyiratkan janji Allah tentang keberkahan bagi mereka yang beriman dan bertakwa.
Beliau juga menggarisbawahi pentingnya ilmu dalam kehidupan, apalagi dalam kepemimpinan. Ilmu, kata beliau, bukan hanya alat untuk mencapai target kerja, tetapi cahaya untuk memahami kebenaran dan memimpin dengan bijaksana. Beliau mengutip sabda Nabi SAW yang sangat terkenal: “Barang siapa menginginkan kebahagiaan dunia, maka dengan ilmu. Ingin bahagia di akhirat, juga dengan ilmu. Ingin bahagia dunia dan akhirat, maka harus dengan ilmu.”ucapnya
Namun, ilmu yang tak diamalkan tak lebih dari beban. Beliau menuturkan, “Setan lebih takut pada orang berilmu yang tertidur daripada kepada orang yang rajin ibadah tapi tanpa ilmu.” Kalimat itu menggugah kesadaran para peserta, bahwa pemimpin itu terus belajar seperti yang kita lakukan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator ini.
Lebih lanjut, beliau menekankan pentingnya amal saleh sebagai buah dari iman dan ilmu yang benar. Amal yang ikhlas dan konsisten, walau kecil, diyakini sebagai penyumbang utama kebahagiaan hidup. Sering kali kita menyangka seseorang bahagia karena hartanya melimpah, rumahnya mewah, atau hidupnya tampak sempurna. Tapi kalau ia jauh dari sembahyang, mungkin saja rumah megah itu tidak pernah jadi tempat yang damai,” ujarnya, menambahkan ilustrasi kehidupan yang begitu dekat dengan kenyataan.
Dengan gaya tutur yang khas, diselingi humor dan analogi yang mengena, H. Ratonggi mengajak para peserta untuk tidak keliru dalam memaknai kebahagiaan, terutama sebagai calon pemimpin di institusinya masing-masing. “Bahagia itu bukan pada karpet mewah atau mobil mewah, rumah mewah dan jabatan yang wah. Tapi pada hati yang lapang karena selalu dekat dengan Allah, tekun menuntut ilmu, dan tak lelah berbuat baik,” tuturnya.
Kultum Subuh itu menjadi titik refleksi penting bagi para peserta diklat. Bukan hanya karena disampaikan dengan dalam dan menyentuh, tetapi karena ia menyuarakan kebutuhan mendasar dalam kepemimpinan yang kerap terlupakan: bahwa pemimpin yang bahagia akan menebar kebahagiaan, dan kebahagiaan itu hanya datang dari jalan yang lurus dan penuh keberkahan.
Acara berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekhusyukan. Para jamaah menyimak dengan antusias, dan banyak yang menyatakan bahwa materi ini mengesankan peserta diklat. “Ini bukan hanya kultum, ini adalah bekal jiwa,” ungkap salah satu peserta seusai kegiatan.
Melalui momentum ini, PKA XVII tidak hanya melahirkan pemimpin administratif, tetapi juga pemimpin yang menyadari bahwa menakar makna bahagia dalam diri seorang pemimpin adalah langkah awal menuju kepemimpinan yang membawa berkah dan keberkahan, baik bagi diri sendiri, institusi, maupun umat.