Kemampuan Literasi Sains: Salah Satu Faktor Penentu Indeks Pembangunan Manusia
Dalam pengertian yang lain dinyatakan bahwa literasi sains merupakan kemampuan seseorang untuk memahami sains, mengkomunikasikan sains, serta menerapkan sains untuk memecahkan masalah dalam kehidupan (PISA, 2003). Selain itu literasi sains juga bermakna kemampuan ilmiah individu untuk menggunakan pengetahuan dalam proses identifikasi masalah, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti yang dimilikinya (Wulandari & Sholihin, 2016)

Dengan demikian, literasi sains adalah kemampuan seseorang dalam memahami sains, mengkomunikasikan dan menerapkannya untuk memecahkan masalah sehingga memiliki sikap dan kepekaan terhadap diri dan lingkungannya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Literasi sains bukan hanya sekedar kemampuan untuk mengingat dan memahami istilah-istilah yang ada dalam sains.
Ruang Lingkup Literasi Sains
Pisa (2003 & 2006) mengemukakan bahwa ruang lingkup literasi sains memiliki empat dimensi yang terdiri dari konten, proses,konteks dan sikap. Dimensi konten literasi sains ini meliputi integrasi konsep-konsep fisika, kimia, biologi serta ilmu pengetahuan bumi dan antariksa (IPBA). Adapun dimensi proses meliputi kemampuan untuk menggunakan pengetahuan dan pemahaman ilmiah antara lain merumuskan masalah, mengidentifikasi bukti serta menarik kesimpulan.
Selanjutnya, konteks literasi sains dapat diartikan sebagai area atau ruang lingkup aplikasi konsep-konsep sains untuk memecahkan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Adapun konteks literasi sains meliputi isu-isu atau masalah sains yang berkaitan dengan kehidupan, artinya masalah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari : isu tentang kesehatan, bumi dan lingkungan, serta teknologi. Sedangkan dimensi sikap mencakup minat terhadap sains, menyukai inkuiri ilmiah, memiliki motivasi dan bertanggung jawab dalam tiap aktivitas kehidupan.