Tim Koordinasi Kementerian Agama Pimpin Talbiyah dan Khutbah Wuquf di Arafah, Jama’ah Menangis Haru di Tengah Panas 40 Derajat
Arafah, Arab Saudi, 26 Mei 2026 — Suasana haru dan khidmat menyelimuti tenda jamaah lintas kementerian dan lembaga Republik Indonesia saat pelaksanaan wuquf di Padang Arafah, 9 Zulhijjah 1447 H, Selasa (26/5/2026). Dalam momentum puncak ibadah haji tersebut, Tim Koordinasi Kementerian Agama memimpin talbiyah, khutbah wuquf, serta doa bersama untuk bangsa Indonesia dan umat Islam dunia.
Tahun ini, Kementerian Agama RI membentuk 13 tim koordinasi yang diterjunkan untuk mendukung kelancaran operasional penyelenggaraan ibadah haji di Arab Saudi. Tim tersebut terdiri dari pejabat eselon II Kementerian Agama, para rektor Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), serta Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama dari berbagai daerah di Indonesia.

Talbiyah mulai dikumandangkan sekitar pukul 11.20 waktu Saudi Arabia (SA) dan dipimpin oleh Prof. Dr. Sumper Mulia Harahap, Lc., M.A., Rektor UIN Syahada Padangsidimpuan. Lantunan “Labbaikallahumma Labbaik” menggema di dalam tenda jamaah yang diikuti sekitar 100 peserta lintas kementerian dan lembaga. Sebelum khutbah wuquf dimulai, jamaah juga melantunkan shalawat secara bersama-sama dengan penuh kekhusyukan.
Suasana semakin menggetarkan ketika sejumlah jamaah tampak menitikkan air mata. Prof. Sumper Mulia Harahap juga terlihat beberapa kali terharu saat memimpin talbiyah dan shalawat. Tangis haru itu menjadi simbol rasa syukur mendalam karena seluruh jamaah akhirnya dapat sampai di Arafah, tempat paling sakral dalam rangkaian ibadah haji.
Khutbah wuquf kemudian disampaikan oleh Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) Kementerian Agama RI. Khutbah dimulai tepat pukul 12.00 siang waktu Saudi Arabia atau pukul 16.00 WIB.


Dalam khutbahnya, Prof. Sahiron mengajak jamaah menjadikan haji sebagai momentum perubahan diri dan peningkatan kualitas ibadah setelah kembali ke tanah air. Ia mengingatkan bahwa inti dari ibadah haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perubahan spiritual yang nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Prof. Sahiron mengutip pandangan Imam Al-Ghazali yang menyampaikan secara tegas bahwa ada jamaah yang tidak memperoleh apa-apa dari hajinya selain rasa lelah dan kesulitan, karena tidak ada perubahan kebaikan setelah melaksanakan ibadah haji.
“Indikator haji mabrur adalah adanya perubahan dalam diri. Dulu shalat dhuha dua rakaat, setelah haji meningkat menjadi empat rakaat. Dulu tahajud empat rakaat, kemudian bertambah menjadi enam rakaat. Sedekah dan infak juga semakin meningkat,” ujar Prof. Sahiron dalam khutbahnya.
Meski suhu di Padang Arafah mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, seluruh rangkaian ibadah berlangsung tertib, tenang, dan penuh kekhusyukan. Jamaah tampak mengikuti khutbah dan doa dengan khidmat sambil terus memperbanyak zikir dan munajat.
Momentum wuquf di Arafah tahun ini menjadi pengingat bahwa haji bukan sekadar perjalanan ritual, melainkan perjalanan transformasi diri menuju pribadi yang lebih dekat kepada Allah SWT serta lebih bermanfaat bagi sesama dan bangsa.
