Tantangan Perguruan Tinggi Islam Dalam Mencetak Sumber Daya Manusia Islami Pada Industri Halal
Di samping itu, pendekatan yang digunakan dalam pengajaran pun mengalami perubahan yang mencerminkan pemahaman lebih mendalam tentang hakikat ekonomi Islam. Pada tahap awal pengajaran, pendekatan normatif lebih menonjol daripada pendekatan komparatif. Kemudian, mengalami beberapa kali perubahan, pendekatan komparatif akhirnya lebih dominan (Rozalinda 2015 : 22 Banyak alasan yang melatar belakangi perubahan pendekatan ini antara lain (i) mulai terlihat nyata kontour-kontour ilmu ekonomi Islam sebagai hasil dari merebaknya seminar, konperensi, lokakarya dan kegiatan-kegiatan ilmiyah lainnya, (ii) makin tersedianya literature tentang ilmu ekonomi Islam baik yang berupa terjemahan dari bahasa asing maupun teks aslinya dalam bahasa asing seperti bahasa arab dan inggris, (iii) makin banyak doktor yang memiliki wawasan ilmu ekonomi Islam Berdasarkan itu, Kurikulum Ekonomi Syariah dibangun dengan memadukan antara ilmu-ilmu teoritis dengan praktis (30:70) ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam (40:60), ilmu kesyariahan (50%) – ushul fiqh, qawaid fiqhiyah fi al-iqtishad, ayat-ayat dan hadits ekonomi, fiqh muamalah. Selain itu, kurikulumnya juga dilengkapi dengan ilmu-ilmu alat (30%) yang terdiri dari bahasa (Arab/Inggris), ICT (aplikasi komputer), matematika, statistik dan akuntansi. Kemudian, kurikulum tersebut juga diperkaya dengan penguatan di bidang kewirausahaan (20%) yang terdiri dari pengantar bisnis, kewirausahaan, studi kelayakan bisnis, analisis laporan keuangan dan etika bisnis Islam. Dengan demikian pembelajaran ideal yang dapat harus dilakukan adalah pengembangan sistem pendidikan integratif.
Muatan kurikulum perlu menggambarkan sasaran-sasaran yang hendak dicapai yang meliputi: 1) Penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris. 2) Penguasaan ilmu-ilmu dasar kesyariahan seperti qawaid fiqhiyyah, ushul fiqh dan fiqh muamalah. 3) Penguasaan ilmu ekonomi Islam. 4) Penguasaan ilmu ekonomi umum termasuk aspek keuangan dan akuntansi. 5) Penguasaan metodologi penelitian (tools of analysis), baik penelitian kualitatif maupun kuantitatif sehingga outputnya adalah SDM yang memiliki kapabilitas, kompetensi dan keilmuan yang luas baik dalam ilmu syariah maupun ilmu ekonomi (Amalia, 2013).
D. Penutup
Dalam pengembangan kurikulum, setidaknya harus memiliki kurikulum berbasis kompetensi yang memadukan antara ilmu syariah dengan ilmu umum serta mengintegrasikan antara teori dengan praktik secara berkelanjutan. Dengan pengembangan ekonomi Islam melalui Perguruan Tinggi diharapkan akan melahirkan para sarjana ekonomi Islam yang memiliki skill baik dalam syariah maupun ilmu-ilmu ekonomi umum yang pada akhirnya mampu merespons segala permasalahan pengembangn ekonomi Islam sehingga keberadaan lembaga keuangan syariah terus mendapatkan kepercayaan publik.
Daftar Pustaka
Abdul Manan, Muhammad (1988), Islamic Economic Theory and Practice A Comparative Study, India: Idarah Al-Adabiyah.
Al-Qaradhawi, Yusuf. (1995) Daur al-Qiyâm wa al-Akhlâq fi al-Iqtishâd al-Islâmî, (Kairo: Maktabah Wahbah.)
Armstrong, D. (1995). “Perception-consciousness and action-consciousness?” Behavioral and Brain Sciences18(02): 247-248.
Amalia, Euis, (2013) Kesesuaian Pembelajaran Ekonomi Islam Di Perguruan Tinggi dengan Kebutuhan SDM Pada Industri Keuangan Syariah di Indonesia, Jurnal Inferensi STAIN Salatiga, Vol. 7, No. 1, Juni
Beer, M. (1984). Managing human assets, Free Pr
Rozalinda, (2015) Epistemologi Ekonomi Islam dan Pengembangannya pada Kurikulum Ekonomi Islam di Perguruan Tinggi (Human Falah Vol 2 No 1)
Statistik Perbankan Syariah (2017) https://bi.go.id
Syam, Nur. Arah Pengembangan Program Studi Ekonomi Syariah. https://nursyam.sunan-ampel.ac.id.