Menggeser Arah Pendidikan Islam: Dari Tekstualitas ke Dimensionalitas
Dr. Suheri Sahputra Rangkuti, M.Pd.
Problem Aktual
Sudah jamak diketahui bahwa dalam pendidikan tradisional, lebih mengedepankan mekanisme pendidikan yang hanya tertumpu pada penuturan teori. Teori dengan sifatnya yang abstrak sudah barang tentu sukar untuk menembus dan berbekas di alam pikiran peserta didik. Lebih-lebih pada kenyataannya bahwa teori juga banyak yang bersebarangan dengan realitas dan pengalaman hidup mereka.
Bukan hanya itu, banyaknya teori yang tidak memungkin untuk disampaikan dengan oral karena mengandung kerumitan yang tinggi ditambah dengan sistem kerja otak manusia yang membutuhkan fakta konkrit agar mudah direspon diingat dan dikembangkan oleh peserta didik menambah dalil bahwa pembelajaran dengan teori yang melangit tidak bisa dipertahankan. Artinya, teori saja tidak cukup, oleh sebab itu pendidikan semestinya tiba dalam pengalaman agar peserta didik tidak gagap untuk menurunkan teori dalam tataran praktik.
Nampaknya, hal ini jugalah yang menyelimuti pendidikan umat Islam sejak dulu sampai sekarang. Memang tidak dipungkiri, kejatuhan umat Islam dari kursi dan pemegang tahta peradaban membuat semangat keilmuan menurun, bahkan yang muncul dalam hidangan diskusi adalah klaim-klaim kebenaran tanpa menghadirkan fakta secara langsung. Persepsi yang salah terhadap teks agama yang diyakini mengandung segalanya menjadikan pendidikan Islam stagnan (jumud).
Dampaknya, perkembangan dalam pendidikan Islam memberlakukan pendidikan satu arah, yaitu, pendidikan yang hanya mengurai teks tanpa menghadirkan fakta konkritnya. Endingnya, hasil dari pendidikan Islam hanya bisa menjangkau realitas menggunakan rasionalisasi teks wahyu tanpa menemukan dan menghasilkan produk baru. Dari penjelasan diagnosa di atas, dan melihat pendidikan Islam sekarang, tidak salah bila diberi cap posisi pendidikan Islam masih berada pada aliaran tradisonalisme. Tidak dibantah juga, bahwa pendidikan Islam sudah mulai merangkak untuk meninggalkan label itu dan bergerak dari ketertinggalan menuju garis finish peradaban.
Di lain hal, pendidikan dalam batang tubuh umat Islam sendiri amat sangat tertutup hingga tidak dapat begerak maju dan menyesuaikan dengan zamannya. Hal ini dipromotori oleh kuatnya belenggu doktrin teologis masa lalu yang masih bercorak monolitik dan tidak plural—tidak sama dengan masa saat ini—membatasi umat Islam dalam merambah ilmu pengetahuan dan membuat umat Islam enggan beranjak dari pengetahuan yang sudah lapuk sejak berabad-abad lalu kepada pengetahuan lain dan baru.
Doktrin berlebihan dan terkesan menakut-nakuti umat Islam agar tidak keluar bahkan untuk sekedar melihat pengetahuan dari jendela orang di luar Islam atau menelanjangi teks sucinya sendiri, malah mendapat perlawanan dari internal dan dilabeli pembohong,[1] murtad bahkan kafir yang halal darahnya. Teks wahyu yang dipahami satu arah (menegasikan realitas) mau tidak mau mengarahkan pikiran umat untuk berpikir deduktif (memposisikan ayat pada premis mayor dan realitas pada premis minor) dan dipaksa untuk mengikuti salah satu pendapat yang sudah disediakan. Jika pendidikan umat Islam masih memegang tradisi ini bisa dipastikan generasi seterusnya akan kehilangan nalar. Endingnya, merasa sebagai pemangku hak mutlak kebenaran being in authority, artinya mengkampanyekan kebenaran tidak dengan legal reasoning tetapi mengikat seusuatu yang dianggapnya sebagai kebenaran dengan bujukan, manfaat dan hukuman.[2]
[1] Kim Knott, Insider/Outsider Perspectives, Jhon R. Hinnels, ed., The Routledge Companion The Study Of Religion (London: Routledge Taylor and Francis Group, 2005), 248.
[2]Khaled Abou El Fadl, Speaking in God’s Name (England: 10Bloomsbury Street London WCIB 3SR, 2001), 50.