Matematika Amal Di Bulan Ramadhan

Belum lagi dikaji bila sholat ashar tersebut dilaksanakan secara berjamaah di masjid. Sebagaimana kita ketahui bahwa sholat berjamaah di masjid memiliki derajat yang lebih besar yaitu 27 kali lipat, seperti hadis nabi Muhammad SAW “Sholat berjamaah lebih afdhal dari pada sholat sendirian sebanyak 27 kali lipat.” (H.R Bukhari dan Muslim). Berarti jika kita sholat ashar pada bulan Ramadhan dan dikerjakan berjamaah di masjid, maka perbandingan nilainya akan sama dengan(70×27) = 1.890 kali nilai sholat ashar sendirian di rumah di luar bulan Ramadhan. Atau dengan kata lain satu kali melaksanakan sholat ashar secara berjamaah di bulan Ramadhan, akan sama nilainya dengan melaksanakan sholat ashar sendirian di luar bulan Ramadhan selama 5,25 tahun. Tentu jika kita melaksanakan sholat ashar selama 30 hari selama bulan Ramadhan secara berjamaah di masjid, maka nilainya akan sama dengan (30x70x27) = 56.700. Artinya akan sama dengan nilai pahala sholat ashar sendirian di luar bulan Ramadhan selama 1.890 bulan atau 157 tahun, Subhanallah lebih dari dua kali lipat usia rata-rata manusia. Begitu mulianya dan utamanya bulan Ramadhan, belum lagi ditambah dengan sholat-sholat wajib yang lain, subuh, juhur, magrib, dan isya, sholat sunah yang banyak dikerjakan di bulan ini seperti sholat tarawih, witir, tahadjud, duha dan rawatif yang biasanya ditingkatkan pada bulan Ramadhan ini. Ini semua tentu dalam rangka meraih kemuliaan dan keutamaan Ramadhan ini.
Namun sekali lagi, ini adalah asumsi perbandingan pahala yang akan diperoleh seseorang, agar lebih termotivasi untuk banyak melaksanakan amal kebajikan seperti ibadah sholat berjamaah di bulan Ramadhan ini. Ilustrasi ini bukan berarti jika sudah melaksanakan sholat ashar selama sebulan penuh di bulan Ramadhan, maka selama 5 tahun kemudian tidak perlu melaksanakan sholat ashar atau jika kita telah melaksanakan sholat ashar secara berjamaah dimasjid selama sebulan penuh di bulan Ramadhan maka kita tidak perlu sholat ashar lagi seumur hidup di luar Ramadhan, Ini tentu salah besar. Sekali lagi tujuan ilustrasi matematik di atas adalah untuk menunjukkan kemuliaan dana keutamaan dari bulan Ramadhan tersebut dengan memperbaiki kualitas ibadah melalui sholat berjamaah di masjid.
Satu lagi keutamaan yang paling dicari-cari atau ditunggu-tungu oleh umat Islam yaitu datangnya atau didapatkannya suatu malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan. Malam tersebut adalah malam lailatul qodar. Malam ini adalah malam yang bernilai lebih baik dari seribu bulan. Malam lailatul qodar biasanya datang di salah satu malam pada bulan Ramadhan, pada 10 malam-malam terakhir dan ganjil. Pada malam ini lah saat diturunkannya Al-Qur’anul Karim. Dalam Al-Quran surat Al Qadr (97) ayat 1-5 disebutkan yang artinya : “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al Quran) pada malam lailatul qadar. Tahukah kamu, apakah malam qadar itu? Malam qadar adalah lebih baik dari pada seribu bulan. Pada malam itu, turunlah malaikat- malaikat dan Jibril dengan izin Tuhan mereka, (membawa segala urusan), (seluruh malam itu) sejahtera sampai terbit fajar.”
Sekali lagi dalam hal ini dapat kita dapat memberikan makna yang serupa dengan ilustrasi/asumsi berikut ini. Melalui logika hitungan matematika sederhana berarti satu amal ibadah yang kita lakukan di malam lailatul qadar pahalanya tentu akan lebih besar dari pahala melakukan amalan sejenis selama 1000 bulan atau 83 tahun di luar malam lailatul qadar. Kita sholat, isya, sholat sunah rawatif, tarawih,witir,dan tahajud, di malam lailatul qadar, akan memperoleh nilai pahala yang lebih besar dari pahala yang kita peroleh dari melakukan sholat-sholat di atas di luar malam lailatul qadar selama 83 tahun.