MATEKATO, Tiga Kata Sederhana yang Bermakna: Maaf, Terima Kasih, dan Tolong, Pesan Kepala UPT Bahasa UIN Syahada dalam Apel Pagi ASN
Padangsidimpuan, 28 September 2026 – “Maaf, Terima Kasih, dan Tolong” merupakan tiga ungkapan sederhana yang memiliki makna mendalam dalam membangun hubungan antarsesama, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun di lingkungan kerja. Ketiga kata tersebut dirangkai dalam satu istilah MATEKATO yang menjadi tema utama wejangan Kepala Unit Pelaksana Teknis Bahasa UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan, Dr. Eka Sustri Harida, M.Pd., saat bertindak sebagai Pembina Apel Pagi ASN di lingkungan Biro UIN Syahada, Senin (28/9/2026).
Apel pagi yang menjadi agenda rutin setiap Senin tersebut berlangsung dengan penuh antusiasme. Materi yang disampaikan Pembina Apel dinilai relevan dengan pelaksanaan tugas dan tanggung jawab Aparatur Sipil Negara, khususnya dalam membangun budaya kerja yang harmonis, saling menghargai, dan memperkuat solidaritas di lingkungan kerja masing-masing.


Dalam arahannya, Dr. Eka Sustri Harida menyampaikan bahwa MATEKATO bukan sekadar rangkaian tiga kata yang mudah diucapkan, tetapi mengandung nilai-nilai moral dan etika yang penting untuk diterapkan dalam kehidupan profesional maupun sosial. Menurutnya, ketiga ungkapan tersebut dapat menjadi fondasi sederhana dalam membangun komunikasi yang baik, mempererat hubungan antarrekan kerja, serta menciptakan lingkungan kerja yang penuh rasa kekeluargaan.
Pertama, Maaf: Meminta maaf dan memberikan maaf merupakan sikap terpuji yang harus tumbuh dalam diri setiap ASN. Dalam interaksi dan pelaksanaan tugas sehari-hari, tidak jarang terjadi kekeliruan, kesalahpahaman, maupun kealpaan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain. Oleh karena itu, seseorang tidak perlu merasa sungkan untuk meminta maaf apabila melakukan kesalahan, begitu pula sebaliknya, memberikan maaf kepada orang lain merupakan bentuk kedewasaan dalam bersikap.
Sikap saling memaafkan menjadi salah satu kunci penting dalam menjaga keharmonisan hubungan kerja. Dengan membiasakan diri mengakui kesalahan dan membuka ruang untuk saling memaafkan, berbagai persoalan dapat diselesaikan secara bijaksana tanpa harus berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Kedua, Terima Kasih: Ungkapan terima kasih merupakan bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap jasa, perhatian, serta bantuan yang diberikan orang lain. Mengucapkan terima kasih tidak harus menunggu bantuan besar atau sesuatu yang bernilai tinggi. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan oleh rekan kerja, atasan, maupun bawahan, tetap patut diapresiasi.
Budaya mengucapkan terima kasih mencerminkan pribadi yang memiliki kesadaran untuk menghargai keberadaan dan kontribusi orang lain. Apabila sikap ini diterapkan secara konsisten di lingkungan kerja, akan tumbuh suasana saling menghormati, memperkuat kebersamaan, serta membangun hubungan silaturahim yang semakin erat di antara seluruh unsur organisasi.
Ketiga, Tolong: Saling membantu dan memberikan pertolongan merupakan wujud kepedulian sosial yang harus senantiasa dipelihara, terutama ketika terdapat saudara, rekan kerja, maupun orang lain yang sedang membutuhkan bantuan. Menurutnya, sikap saling tolong-menolong tidak hanya meringankan beban orang yang membutuhkan, tetapi juga mencerminkan nilai kemanusiaan, kebersamaan, dan persaudaraan.
Dalam konteks kelembagaan, budaya saling membantu sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. Setiap individu memiliki tanggung jawab dan peran masing-masing, namun keberhasilan sebuah lembaga tidak dapat diwujudkan secara sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama, kepedulian, dan kesediaan untuk saling mendukung demi mencapai tujuan bersama.
Lebih lanjut, pesan MATEKATO menjadi pengingat bahwa kemajuan sebuah institusi tidak hanya ditentukan oleh kecakapan intelektual, kemampuan profesional, dan pencapaian kinerja, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan antarsesama yang dibangun melalui sikap dan perilaku sehari-hari.
Di lingkungan UIN Syahada, penerapan nilai-nilai tersebut diharapkan dapat memperkuat budaya kerja yang positif, menciptakan suasana yang harmonis, serta menumbuhkan semangat kebersamaan di antara pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. Dengan demikian, setiap ASN tidak hanya dituntut untuk menjalankan tugas secara profesional, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan melalui perilaku yang santun, rendah hati, dan peduli terhadap sesama. Apel pagi kemudian menjadi momentum refleksi bersama bagi seluruh ASN bahwa membangun lembaga yang maju dan berdaya saing harus dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk membiasakan diri mengucapkan maaf, terima kasih, dan tolong.(mr)

