Living Al-Qur’an Di Lingkungan Lembaga Pemasyarakatan


Interaksi antara umat Islam dengan kitab suci al-Qur’an dalam lintas sejarah Islam selalu mengalami perkembangan yang dinamis. Bagi umat Islam al-Qur’an tidak saja berperan sebagai kitab suci yang menjadi pedoman hidup akan tetapi juga sebagai penyembuh (syifa’), penerang (nur) dan pembawa kabar gembira (busyra).
Hasiah, M.Ag
Interaksi antara umat Islam dengan kitab suci al-Qur’an dalam lintas sejarah Islam selalu mengalami perkembangan yang dinamis. Bagi umat Islam al-Qur’an tidak saja berperan sebagai kitab suci yang menjadi pedoman hidup akan tetapi juga sebagai penyembuh (syifa’), penerang (nur) dan pembawa kabar gembira (busyra). Oleh karena itu, mereka berusaha untuk selalu berinteraksi dengan al-Qur’an dengan cara mengekspresikannya melalui lisan, tulisan maupun perbuatan, baik berupa pemikiran, pengalaman maupun spiritual.
Setiap muslim berkeyakinan bahwa ketika dirinya berinteraksi dengan al-Qur’an maka ia akan merasakan kebahagiaan yang amat sangat. Untuk memperoleh petunjuk dari al-Qur’an, muslim berupaya untuk membaca, memahami dan mengamalkannya. Meskipun membacanya saja sudah dipandang sebagai ibadah. Pembacaan al-Qur’an yang dilakukan umat Islam menghasilkan pemahaman yang beragam sesuai dengan kemampuan mereka. Selanjutnya pemahaman tersebut melahirkan berbagai macam prilaku.
Ada berbagai model pembacaan al-Qur’an yang diterapkan oleh umat Islam, mulai dari yang berorientasi pada pemahaman dan pendalaman makna seperti yang banyak dilakukan oleh para ahli tafsir, sampai yang sekedar membaca al-Qur’an sebagai ibadah ritual atau untuk memperoleh ketenangan jiwa. Bahkan ada model pembacaan al-Qur’an yang bertujuan untuk mendatangkan kekuatan magis atau terapi pengobatan seperti membacakan ayat al-Qur’an lalu dihembuskan ke dalam segelas air putih atau menghembuskannya ke tapak tangan lalu menghusapnya keseluruh tubuh. Demikianlah cara umat Islam dalam membumikan al-Qur’an tergantung bagaimana mereka memahaminya.