Ibadah Haji: Integrasi Spritualitas dan Rasionalitas
Padangsidimpuan, 7 Juli 2023. Haji merupakan salah satu kewajiban penting bagi umat Islam yang sering kali ditekankan sebagai perjalanan spiritual. Namun, terkadang, dalam praktik haji, umat Islam dapat terjebak dalam sikap yang melebihi orientasi spritualitas dan mengabaikan rasionalitas, bahkan hingga mengesampingkan keselamatan diri. Dalam beberapa tahap praktik haji, terlihat adanya penekanan yang berlebihan pada aspek ritualistik tanpa memperhatikan keamanan dan kesejahteraan jamaah. Kebanyakan umat Islam tergoda untuk melangkahi batas rasionalitas dalam upaya untuk menunjukkan ketekunan dan kehormatan terhadap ritualitas haji semata.
Dalam Islam, aspek spritualitas tidaklah terpisah dari dunia nyata, melainkan memberikan penghargaan kepada akal budi untuk menghubungkan kita dengan realitas yang ada. Konsep ini dikenal sebagai realisme kritis, di mana spiritualitas dalam kehidupan manusia dapat diarahkan pada situasi dan kondisi yang realistis. Realisme kritis mengajarkan umat Islam untuk tidak mengabaikan realitas dunia ini, namun sebaliknya, menggunakan spiritualitas sebagai sarana untuk memahami dan menghadapi kehidupan sehari-hari dengan bijaksana.
Hal ini mengimplikasikan bahwa pemahaman spiritualitas tidak menghilangkan tanggung jawab kita terhadap dunia fisik, melainkan sebaliknya, mempersiapkan kita untuk menghadapi tantangan dan tugas dalam kehidupan ini dengan cara yang lebih baik. Dalam praktik realisme kritis, umat Islam diingatkan untuk menjalankan tugas-tugas keagamaan mereka dengan kewaspadaan, kebijaksanaan, dan pemahaman yang proporsional terhadap konteks dunia nyata. Ini berarti mengambil tindakan nyata yang sesuai dengan ajaran agama, sambil tetap menyadari kebutuhan dan aspirasi dunia fisik.
Terkait dengan praktik haji, penyatuan antara spiritualitas dan rasionalitas semestinya harus tergambar dalam proses haji. Hal inilah yang selalu di himbau oleh Menteri Agama Republik Indonesia Yaqut Cholil Qoumas, sebagaimana dapat kita saksikan dalam pelaksanaan haji pada tahun ini. Gusmen menginstruksikan pembimbing haji yang memiliki peran sentral dalam memberikan bimbingan kepada jamaah haji agar menjalankan haji dengan pemahaman yang benar dan seimbang antara aspek spiritualitas dan rasionalitas. Melalui edukasi, pengawasan, dan pengaturan yang ketat, mereka memastikan bahwa pelaksanaan haji dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keamanan, kesehatan, serta nilai-nilai agama yang sesuai.
Kendati saling mendukung antara spritualitas dan rasionalitas, namun dalam konteks tertentu antara spritualitas Islam dengan rasionalitas dapat diintegrasikan dan pada konteks lain antara spritualitas dan rasionalitas tetap tidak bisa membaur menjadi senyawa. Lebih sederhananya, posisi rasionalitas dalam spritualitas adalah alat untuk menangkap realitas dalam kalkulasi empiris dan matematis. Karena rasionalitas adalah sebuah totalitas yang terbatas dan koheren yang dilandaskan pada janji Tuhan Yang Maha Tinggi. Rasionalitas manusia mampu memahami, paling tidak beberapa hal yang masuk akal dari dunia realitas.
Ibadah haji adalah sebuah penyatuan antara spiritualitas dan rasionalitas. dimana di dalamnya ada paradigma Teo-antropo-ekosentris, Ilahiyah, Insaniyah dan Kauniyah. dalam satu kesatuan.
– Dr. Muhammad Darwis Dasopang, M.Ag.

Jika kita melihat bagaimana peran Kementerian Agama Republik Indonesia dalam menjaga spritualitas dan rasionalitas jamaah haji terlihat jelas pengintegrasian di antara dua aspek tersebut. Sebagai contoh, ketika melakukan lempar jumrah, jamaah haji harus menyadari bahwa menjaga jarak dan mengikuti aturan yang ditetapkan akan meminimalkan risiko kecelakaan atau kerumunan yang berpotensi berbahaya. Rasionalitas manusia memungkinkan untuk memahami bahwa menghindari kerumunan yang berlebihan dan menjaga jarak adalah langkah yang bijaksana untuk menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain. Sementara spiritualitas memungkinkan kita untuk melampaui batasan fisik dan merasakan kebersamaan yang mendalam antara jiwa dengan Tuhan.
Pada akhirnya saya ingin mengatakan bahwa Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas dalam pelaksaan haji tahun ini jelas memperlihat integrasi antara spritualitas dan rasionalitas dalam seluruh himbauannya. Melalui pendekatan yang berimbang antara aspek spritual dan rasional, Gusmen memastikan bahwa pelaksanaan haji tidak hanya didasarkan pada ritualisme semata, tetapi juga mencerminkan pemahaman yang benar tentang tujuan dan makna dari setiap tindakan yang dilakukan selama haji.
Sebagai penutup, saya ingin mengutip perkataan Jhon F. Haught yang mengandung makna yang mendalam, bahwa segala sesuatu yang rasional turut serta dalam mencapai keabadian. Semua yang dapat kita respon secara rasional merupakan panggilan untuk menghubungkan kehidupan kita dengan kemuliaan-kemuliaan Tuhan yang Abadi. Prinsip-prinsip yang muncul dari hubungan antara spritualitas dan rasionalitas sudah lebih dari cukup untuk mendorong kita agar terus mengejar keselarasan antara akal dan hati.
Artikel Opini ini ditulis oleh: Dr. Muhammad Darwis Dasopang, M.Ag. | Rektor UIN Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan