Bulan Ramadhan: Momentum Meminimalisir Perilaku Konsumtif

Kehadiran bulan suci Ramadhan selalu diapresiasi sedemikian rupa oleh banyak pihak, termasuk pemerintah. Pemerintah biasanya cukup serius memperhitungkan ketersediaan kebutuhan pangan selama Ramadhan hingga Idul Fitri
Delima Sari Lubis, MA
Kehadiran bulan suci Ramadhan selalu diapresiasi sedemikian rupa oleh banyak pihak, termasuk pemerintah. Pemerintah biasanya cukup serius memperhitungkan ketersediaan kebutuhan pangan selama Ramadhan hingga Idul Fitri. Kebijakan ini sesungguhnya tidaklah salah, karena pemerintah memang harus bertanggungjawab agar rakyatnya tidak kelaparan. Disatu sisi kebijakan yang dilakukan pemerintah ini menurut hemat penulis, merupakan suatu kehormatan bagi umat Islam. Namun disisi lain ada aspek yang perlu dipertanyakan. Mengapa kebutuhan konsumsi umat pada bulan Ramadhan justru semakin meningkat? Mengapa diperlukan kebijakan ekonomi secara khusus untuk menghadapi Ramadhan? Adakah yang salah dari pelaksanaan puasa yang kita umat muslim lakukan?
Fenomena bulan Ramadhan yang semestinya mengurangi kuantitas konsumsi, justru menyajikan fakta yang sebaliknya. Dimana secara umum, tingkat konsumsi masyarakat muslim cenderung lebih tinggi dibandingkan bulan lain. Tidak bisa dipungkiri bahwa faktor utama peningkatan ini berawal dari anggaran untuk belanja sahur dan berbuka semakin tinggi. Banyak yang beralasan, jika sajian saat berbuka dan sahur harus istimewa. Sebagai ganti atas jerih payah menahan lapar dan dahaga. Dalam bahasa sederhana, disaat berbuka dijadikan ajang untuk “balas dendam”. Sikap seperti ini masih berlaku di sebahagian besar keluarga muslim. Sehingga secara tidak langsung akan berimbas pada peningkatan kebutuhan untuk memenuhi selera konsumtif. Padahal makan seyogianya merupakan kebutuhan untuk hidup, bukan menjadi gaya hidup.