Hilangnya Etika Media Massa dan Peluang Komunikasi Islam
Dr. Icol Dianto, S.Sos.I., M.Kom.I
Kasus AD karyawan yang diajak Staycation oleh atasannya sempat menghebohkan jagad maya di Indonesia. Posisi AD adalah korban yang telah berani melaporkan atasannya ke polisi karena ajakan staycation itu dinilai sebagai pelecehan. Selain itu, atasan AD diduga melakukan intimidasi yang mengaitkan staycation dengan perpanjangan kontrak kerja. Tulisan ini bukan bertujuan untuk menjustifikasi kebenaran antar pihak, tetapi tanpa disadari telah terjadi pengabaian etika.
Artikel ini akan mengupas aspek yang memprihatinkan dalam kasus staycation tersebut. Ilustrasi kasus AD di atas memperlihatkan betapa adab terabaikan. AD yang menempati posisi sebagai korban mestinya mendapatkan perlindungan, termasuk perlindungan privasi oleh media massa. Akan tetapi, AD tidak mendapatkan haknya untuk dilindungi oleh media. Beberapa media malah mengeksploitasi AD, menampilkan paras cantik AD, dan mengungkit sisi lain kehidupan AD, yang tidak ada hubungannya dengan ajakan staycation.
Menampilkan foto-foto AD ke ruang publik dengan memamerkan paras kecantikan AD merupakan eksploitasi media terhadap korban. Media hendak menjual ke khalayaknya bahwa cerita, kisah, dan fakta peristiwa yang menimpa AD layak untuk dikonsumsi oleh publik. Oleh karena itu, pihak media memperkuat teks berita (narasi) dengan foto AD, yang selalu tampil cantik dan bahagia. Namun, pernahkah media mengungkap di balik narasi dan foto cantiknya itu terdapat trauma psikologis?
Eksploitasi yang berlebihan membuat pihak media lupa bahwa AD adalah korban. Media hendak mengatakan kepada publik bahwa AD kini menjadi viral, terkenal, dan selebritis karena kasus pelecehan itu. Hal ini diperkirakan menjadi pemicu media untuk mengungkap hal-hal lain, termasuk “ngamar bareng pacar” (Media Jaringan Tribun.com). Apakah media hendak mengonstruksi bahwa ajakan staycation itu muncul karena AD yang suka ngamar? Apakah media ingin mengatakan bahwa memang AD yang berpenampilan seksi yang bisa menggoda lelaki, termasuk bos? Selain dari kasus AD tersebut, masih banyak kasus lain yang perlu sorotan kritis terhadap bentuk pelanggaran etika yang dilakukan oleh pihak media massa.
Eksploitasi media terhadap korban, terutama korban perempuan dan anak, dalam kasus-kasus asusila kerap terjadi di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya media menjelaskan kronologis suatu kasus asusila secara rinci, menyebabkan dua hal yaitu memperpanjang periode trauma menimpa perempuan dan anak karena pemberitaannya tetap tersimpan secara maya (digital, online).Pribadi (2016) menyebutkan bahwa media terjebak dengan logika pasar dengan memberitakan kasus asusila secara vulgar dan sensasional. Pemberitaan yang vulgar dan sensasional itu merupakan bentuk kekerasan simbolik yang dilakukan oleh pihak media kepada korban. Konsep diri yang dibangun oleh media menjadi pelabelan (citra) yang negatif yang memicu trauma berkepanjangan baik bagi korban maupun keluarga korban.
Temuan Mony dan Wahyuni (2023) menyebutkan bahwa pemberitaan seringkali mendistorsi fakta peristiwa. Dengan teori Newsmaking Criminology disebutkan bahwa media sering mengorkestrasi peristiwa dan menampilkan sisi-sisi lain dari peristiwa dengan tujuan untuk menarik perhatian khalayak. Senada dengan itu,Jalaluddin dkk (2022) merekomendasikan pentingnya untuk menyusun naskah berita yang sensitif gender dan memperkaya literasi keadilan gender di kalangan praktisi media.