Memahami Ayat Tentang Iman Kepada Malaikat

Ditulis oleh: Rizki Ramadhani Ritonga | Mahasiswa UIN Syahada Padangsidimpuan

Pendahuluan

Semua makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT dapat dibedakan menjadi dua kategori, yaitu ghaib (al-ghaib) dan nyata (as-syahadah). Perbedaan ini ditentukan oleh kemampuan panca indera manusia untuk menjangkaunya. Segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh panca indera termasuk dalam kategori al-ghaib, sedangkan yang dapat dijangkau dikategorikan sebagai as-syahadah. Untuk mengenali dan mempercayai keberadaan makhluk ghaib, seseorang dapat melakukan dua pendekatan: melalui informasi yang diberikan oleh sumber tertentu atau melalui bukti nyata yang menunjukkan keberadaan makhluk ghaib tersebut. Contohnya, untuk meyakini adanya malaikat, kita mendapat informasi dari berita yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW, baik melalui Al-Quran maupun Sunnah.

Banyak ayat dalam Al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang menjelaskan tentang malaikat. Karena kita mempercayai kebenaran dari kedua sumber ini, kita juga dapat menemukan bukti-bukti nyata di alam semesta yang menunjukkan bahwa malaikat itu memang ada. Keimanan kepada malaikat merupakan bagian dari rukun iman yang kedua, sehingga setiap Muslim yang mengaku sebagai penganut Islam harus mempercayai keberadaan malaikat.

Defenisi

Secara etimologis, kata “Malaikat” adalah bentuk jamak yang berasal dari bahasa Arab “malak” (ملك), yang berarti kekuatan, dan berasal dari kata dasar “al-alukah,” yang berarti risalah atau misi. Pembawa misi ini biasanya disebut Ar-Rasul. Dalam istilah, malaikat adalah makhluk Allah SWT yang diciptakan dari cahaya dan memiliki tugas untuk menjalankan berbagai bentuk ketaatan kepada-Nya sepenuhnya dan tanpa penolakan, sehingga mereka selalu melaksanakan perintah Tuhan dengan baik.
Beriman kepada malaikat berarti meyakini dengan sepenuh hati bahwa malaikat adalah makhluk mulia ciptaan Allah, yang mencakup pengetahuan tentang keberadaan mereka, nama-nama mereka, ibadah, ketaatan, tugas-tugas, serta segala hal yang berhubungan dengan mereka.1 Iman kepada malaikat adalah rukun iman kedua setelah iman kepada Allah. Hal ini berarti percaya bahwa Allah memiliki makhluk bernama malaikat yang selalu taat kepada-Nya dan melaksanakan tugas yang diberikan dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana firman Allah dalam surah Al baqarah 285:

Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka berkata,) “Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” Mereka juga berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami, wahai Tuhan kami. Hanya kepada-Mu tempat (kami) kembali.”

Seorang muslim harus menaati firman Allah sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah. Sikap beliau dan para pengikutnya yang beriman menyangkut kitab suci Al-Qur’an dan kitab-kitab terdahulu serta para nabi dan rasul adalah bahwa Rasul, yakni Nabi Muhammad, beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya, yakni Al-Qur’an, dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman meski dengan kualitas keimanan yang berbeda dengan Nabi. Semua, yakni Nabi Muhammad dan orang mukmin, beriman kepada Allah bahwa Dia wujud dan Maha Esa, Mahakuasa, tiada sekutu bagi-Nya, dan Mahasuci dari segala kekurangan.

Mereka juga percaya kepada malaikat-malaikat-Nya sebagai hamba-hamba Allah yang taat melaksanakan segala apa yang diperintahkan kepada mereka dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Demikian juga dengan kitab-kitab-Nya yang diturunkan kepada para rasul, seperti Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Qur’an, dan juga percaya kepada rasul-rasul-Nya sebagai hamba-hamba Allah yang diutus membimbing manusia ke jalan yang lurus dan diridai-Nya. Mereka berkata,” Kami tidak membeda-bedakan seorang pun dengan yang lain dari rasul-rasul- Nya dalam hal kepercayaan terhadap mereka sebagai utusan Allah.” Dan mereka berkata, “Kami dengar apa yang Engkau perintahkan, baik yang melalui wahyu dalam Al-Qur’an maupun melalui ucapan NabiMu, dan kami taat melaksanakan perintah- perintah-Mu dan menjauhi larangan-larangan-Mu.” Dengan rendah hati mereka juga berucap,” Ampunilah kami, Ya Tuhan kami, dan hanya kepada-Mu, tidak kepada selain- Mu, tempat kami kembali.”