Islam dan Lingkungan Hidup

  1. Pernyataan Al-quran tentang Lingkungan Hidup

Ayat-ayat Al-quran banyak sekali menyinggung tentang masalah lingkungan hidup. Hal ini bermakna bahwa Alquran punya konsern terhadap masalah ini. Misalnya bahwa Alquran sangat tegas terhadap orang-orang yang merusak lingkungan. Bahkan perusak alam diganjar dengan hukuman yang sangat berat seperti dijelaskan pada surat Al-baqarah ayat: 205–206. Apabila ia berpaling dari kamu, kemudian ia juga melakukan perjalanan diatas bumi dan melakkukan kerusakan, merusak tumbuhan juga hewan, dan sungguh Allah tidak menghendaki kerusakan. Jika disampaikan padanya: “Bertakwalah kepada Allah”, maka ia akan menunjukkan sikap yang arogan bahkan melakukan perbuatan dosa. Maka kelak balasannya di neraka Jahannam.

Sungguh itu tempat yang paling buruk dan manakutkan.Tidak hanya keterangan wahyu Al-quran yang banyak menyinggung tentang lingkungan hidup, hadist-hadist Nabi juga ada, antara lain yang berbunyi: “Hai prajurit kamu tidak dibolehkan membunuh anak-anak dan wanita, musuhmu adalah kaum kafir. Jangan membunuh unta/kuda dan binatang lain, jangan membakar dan merusak kota, menebang pohon, dan jangan merusak sumber air minum (H.R. Muslim). Dalam hadis tersebut dapat ditarik pemahaman bahwa jika dalam situasi darurat, situasi perang, kita harus tetap memperhatikan lingkungan, apalagi pada masa-masa normal.

Perhatian Al-quran yang khusus tentang lingkungan hidup ini, tidak hanya terkait dengan larangan dan anjuran atau apa yang baik dan yang buruk. Lebih dari itu ternyata al-quran punya pandangan yang spesial. Dorongan Al-quran agar memperhatikan alam lingkungan adalah agar manusia dapat mengelola alam dengan sebaik-baiknya, agar dapat dimafaatkan seluruh semesta. Misalnya, Al-quran memotivasi manusia agar memperhatikan bagaimana untak diciptakan, bagaimana gunung ditinggikan, bagaimana bumi dihamparkan.

Dengan demikian, manusia harus mengadakan riset-riset. Dengan riset-riset inilah pada akhirnya dapat melahirkan ilmu-ilmu baru yang dapat membawa umat manusia sejahtera. Misalnya, anjuran memperhatikan untuk diciptakan, seharusnya melahirkan penemuan baru dalam bidang biologi. Anjuran memperhatikan gunung diciptakan seharusnya melahirkan penemuan baru dibidang geologi, demikian juga anjuran bumi dihamparkan agar dapat melahirkan ilmu-ilmu kealaman yang berujung pada kesejahteraan umat manusia.

Motivasi Al-quran untuk mengadakan riset-riset ilmiah ini ditegaskan dalam Q.S.Alghasiyyah:17-20 berbunyi: Artinya: Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan?, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan ?, Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?,Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Disisi lain, agama dan lingkungan seringkali dipahami secara terpisah atau dikotomis. Pemahaman tersebut berkembang selama ini, sehingga agama cenderung tidak memberikan kontribusi yang memadai terhadap kesadaran umat dalam menjaga lingkungan mereka. Agama dan lingkungan dianggap dua hal yang terpisah dan tidak berhubungan satu sama lain. Padahal terdapat hubungan yang erat antara agama dan lingkungan hidup, khususnya pada kontribusi agama dalam mempengaruhi perilaku manusia terhadap persepsi dan tingkah lakunya dalam menjaga dan melestarikan lingkungan hidup disekitarnya.