Benturan Antara Budaya Global Dan Budaya Lokal

Korean wave muncul dari berbagai film yang terkenal.Korean Wave dibagi menjadi lima kategori model konsentris, yakni: Pertama, essential content atau konten penting yang terdiri dari K-Drama, KPop, dan produk media lainnya. Kedua, semi-essential content yang terdiri dari film, performing arts, video games, dan makanan. Ketiga, para-Hallyu products or services yakni produk kosmetik, pariwisata, bedah plastik, barang-barang fashion, dan layanan bahasa. Keempat, distributive channels berupa broadcast,satelit, TV kabel, budaya luar negeri,institusi pendidikan, komunitas atau media diaspora, media sosial-network, dan internet. Kelima, short/long-term effects berupa peningkatan penjualan pada industri konten atau bisnis ritel, dampak positif terhadap citra atau branding nasional, dan daya saing yang tinggi dalam perdagangan internasional dan diplomasi publik.(Nickasari Hendytami, dkk, h. 205-218)

Dengan demikian, terjadinya globalisasi media telah mempengaruhi dan menghancurkan eksistensi dan identitas budaya lokal di Indonesia. Teori media dengan cara yang sepenuhnya politik kepentingan telah menunjukkan bukti ini. Lihatlah hari ini, di mana kita duduk di depan televisi setiap hari, setiap malam,semua umur, semua warna kulit, dan keyakinan. Kita percaya dengan ilusi yang diputar dari sini. Kita menganggap televisi sebagai realitas. Kita melakukan apa saja yang dikatakan oleh televisi. Kita berpakaian seperti di televisi, makan makanan yang ada di televisi, membesarkan anak seperti di televisi, bahkan kita berpikir seperti di televisi. “Televisi sekarang telah mengawal anak-anak di seluruh dunia bahkan sebelum mereka memiliki izin untuk menyeberang jalan”.

Herbert Schiller sebagaimana dikutip Branston, adalah salah seorang yang paling terkenal dari mereka yang membuat argumen„imperialisme budaya‟. Dia berpendapat bahwa dominasi iklan media komersil AS tidak hanya menjadikan model AS popular di seluruh dunia,namun juga telah mendorong budaya konsumerisme.

Selain mengikis hak-hak kebebasan warga negara, beberapa anti-globalisasi mencela cara di mana media global menghegemoni selera, tradisi dan bahkan bahasa lokal yang khas. Tradisi budaya lokal telah kalah menghadapi serangan budaya Coca- Cola/McDonald‟s/Levi‟s Jeans. Nilai-nilai tradisional telah terkikis oleh acara televisi, film, dan music Pop buatan AS. Budaya konsumtif ini mempromosikan individuaisme, narsisme, dan keserakahan hingga menggerogoti standar moral dan keyakinan agama. maka kelompok-kelompok etnis, nasional, dan agama berusaha mengekang apa yang mereka anggap sebagai keunikan, martabat, dan nilai-nilai mereka. Kemudian persepsi dapat memicu reaksi terhadap globalisasi dan Amireka Serikat, yang dipandang pendukung utamanya.

Pro globalisasi juga menambahkan, bahkan– jika sering menggambarkan adat istiadat sebagai warisan budaya yang mesti dipelihara, pada kenyataannya warisan budaya manusia di mana saja telah terbentuk dari proses yang sangat panjang dan brutal sebagai pertukaran dari adanya konflik antar budaya yang jauh telah berlangsung sebelum intervensi AS dan usaha kolonial Eropa.

Dari beberapa pendapat di atas, kelihatannya globalisasi kontroversial dalam beberapa hal. Tampaknya, kekhawatiran bahwa globalisasi merongrong identitas lokal berlebihan. Batas lokal dan nasional,agama, hukum, institusi media, struktur perpajakan, dan lain-lain tetap eksis dan memiliki kekuatan ekonomi dan ideologi. Memang,identitas nasional tampaknya berubah, tetapi tidak dilenyapkan dengan globalisasi, kecuali pada sebuah negara yang lemah, bodoh dan usang.Oleh karena itu, angin segar ini paling tidak telah memberikan kesempatan dan peluang kepada kita untuk merevitalisasikannya kembali dengan cara melihat beberapa kencenderungan yang mungkin bisa terjadi di masa depan.(Maimun Fuadi, h. 299-303).

Benturan Budaya Lokal dengan Global

Benturan antara budaya global dan lokal telah menjadi fenomena yang semakin umum dalam era globalisasi. Pertama, globalisasi membawa dengan itu arus informasi, teknologi, dan budaya populer yang mempengaruhi budaya lokal. Misalnya, munculnya media sosial telah mengubah cara orang berinteraksi dan berkomunikasi di seluruh dunia, termasuk di dalam budaya lokal yang mungkin memiliki nilai dan norma yang berbeda.

Kedua, dalam proses ini, budaya lokal sering kali dihadapkan pada tantangan untuk mempertahankan identitasnya sendiri sambil menyerap elemen-elemen baru dari budaya global. Hal ini dapat menciptakan konflik internal antara nilai-nilai tradisional dan nilai-nilai yang diadopsi dari luar. Misalnya, di beberapa masyarakat, nilai-nilai konsumenisme dan individualisme yang dipromosikan oleh budaya global dapat bertentangan dengan nilai-nilai kolektivisme dan kesederhanaan yang dijunjung tinggi dalam budaya lokal.

Ketiga, benturan budaya global dengan lokal juga dapat menghasilkan penolakan atau resistensi terhadap pengaruh-pengaruh asing. Ini bisa tercermin dalam gerakan-gerakan yang berupaya mempertahankan keaslian budaya lokal atau menolak elemen-elemen budaya global yang dianggap mengancam identitas lokal. Contohnya, beberapa negara telah menerapkan kebijakan untuk melindungi dan mempromosikan seni, musik, dan tradisi lokal mereka sebagai respons terhadap dominasi budaya global.

Terakhir, sementara terjadinya benturan budaya global dengan lokal dapat menciptakan ketegangan dan konflik, hal itu juga dapat memunculkan kemungkinan untuk penciptaan budaya baru yang menggabungkan elemen-elemen dari kedua dunia. Penggabungan budaya dapat menghasilkan inovasi dan kreativitas baru dalam seni, musik, fashion, dan gaya hidup. Maka, penting untuk memahami bahwa benturan budaya tidak selalu negatif, tetapi dapat menjadi titik awal bagi transformasi budaya yang dinamis dan kompleks.